Minggu, 29 April 2012

Me-Isnadkan Hadiets.

                                                                                          
                                                                            
                                                 I s l a m  d a n   I l m u  H a d i e t s 


Me- Isnadkan Hadiets.
Para shahabat sesudah wafatnya Nabi Muhammad s.a.w. satu sama lain pertjaja-mempertjajai. Para Tab’ien dengan tidak tertegun-tegun menerima Hadiets yang diriwajatkat kepadanja oleh seorang Shahaby. Demikianlah keadaan berdjalan sehingga timbulnja fitnah yang digerakkan oleh Abdullah ibn Sabaa, seorang Jahudi yang bermaksud djahat kepada Islam. Dia membangun gerakan ummat kepada menganut faham Tasyayu’ {faham memihak kepada ‘Alie dan mempertahankan ke Khalifahan ditangan Alie dan keturunannja}. Mereka ada yang mengaku ketuhanan Alie r.a. Berkenan dengan itu, timbullah penjisipan kedalam Hadiets, penjisipan itu kian hari kian bertambah.
Berkenan dengan yang demikian, mulailah para Shahabat, baik dari para Tabi’ien dan para Ulama, berhati-hati menerima riwajat-riwajat yang diberitakan kepada mereka. Mulailah mereka tiada lagi menerima hadiets, terketjuali yang mereka ketehui djalan datangnja dan perawi-perawinja dan mereka dapat mempertjajai hal tersebut.
IBNU SIERIEN berkata : {Menurut riwajat Muslim dalam Muqadamah Shahiehnja} :
“Para Shahabat dan Tabi’ien tidak menanjak tentang hal “i s n a d”. Maka dikala terdjadi fitnah, mereka pun dikala menerima sesuatu hadiets menanja : “Siapa yang memberikan hadiets itu ? Sesudah diketehui sanad diperiksalah apa sanad itu terdiri dari Ahlus Sunnah? Kalau benar, diambillah hadiets. Jika perawi itu dari ahli bid’ah, maka diditolak hadiets tersebut.
Diriwajatkan Muslim dari Mudjaahid. Bahwa Busjair Al Adawy datang kepada Ibnu ‘Abbas, lalu mentjeritakan hadiets kepadanja. Ibnu ‘Abbas tidak memperhatikan hadiets-hadiets yang diriwajatkan itu. Maka Busjair bertanya : Apakah sebabnya tuan tidak mendengar hadiets-hadiets yang aku riwajatkan ?
Ibnu ‘Abbas mendjawab : “Dahulu, kami apabila mendengar hadiets, kami memperhatikannya dengan sebaik-baiknja. Dikala manusia telah mengendarai binatang djinak dan liar, tiadalah lagi kami menerima selain dari yang kami ketahui” 
Abul ‘Alijah berkata : “Adalah kami mendengar hadiets dari shahabat. Kami tidak senang, kalau kami tidak bersusah-susah datang kepada shahabat itu untuk mendengar hadiets”.
Kata Az Zuhri : “Isnad itu dari Agama. Sekiranja tak ada “I s n a d” {sekiranja kita tidak memerlukan isnad}, tentulah siapa sadja dapat mengatakan apa yang dikehendaki”
{“Al Isnaadu minad dini laulal isnaadu laqaala man syaa amaasyaai”}.
Ibnul Mubarak berkata : “Bainana wabainal qaumi al qawaaimu”.
{“Antara kami dengan mereka, ialah Isnad”}.
Memeriksa benar tidaknya Hadiets.
Seseorang yang menerima hadiets, berusaha pergi bertanja kepada shahabat dan tabi’ien dan imam-imam hadiets. Dengan inajat Allah Ta’ala djuga, banjak para shahabat yang hidup lama. Maka diketika timbul kedustaan dalam urusan hadiets, seseorang yang menerima hadiets pergilah kepada para shahabat itu untuk menanja hadiets-hadiets yang mereka ketahui dan lalu menanja pendapat mereka tentang hadiets-hadiets yang penanja itu menerimanja.
Diriwajatkan oleh Muslim dalam Muqaddamah Shahehnja dari Ibnu Abie Mulaikah ujarnja :
“Katabtu ilabni ‘abbasin  anyaktubuliy kitaaban wayukhfiy ‘anniy faqaalaa : “Waladun naashihhun, anaa akhtar lahul-umura ikhtiyaaran wa-ukhfiya ‘anhu. Faqaala : Fada’aa biqadha-i ‘alayya faja’ala yak tubu minhu syay-an wayamurru bisy-syayyi-a fayaquwlu : Wallahi maa qadha bihaadzaa ‘aliyyun illa-an yakuwna qad dhalla”
“Saya menulis surat kepada Ibnu Abbas, supaja beliau menulis untukku sebuah kitab dan menjembunjikan {yang tidak baik} dari padaku. Ibnu ‘Abbas berkata : Seseorang anak yang djudjur, dan saya akan memilih untuknja beberapa urusan dan menjembunjikan dari padanja {hal-hal yang tidak benar}. Udjarnja lagi : Maka Ibnu ‘Abbas meminta orang bawakan kepadanja kitab hukum ‘Alie. Lalu Ia salin dari padanja beberapa urusan dan tarkadang-kadang bila  Ibnu ‘Abbas mendapati yang tidak benar, berkata :  Demi Allah,  ‘Alie tidak menghukumkan begini, terketjuali kalau Ia tersesat”.
Untuk memenuhi maksud ini banjaklah para tabi’ien membuat perlawanan. Bahkan sebahagian shahabat pun membuat perlawanan dari kota-kekota, untuk mendengar hadiets-hadiets dari orang-orang kepertjajaan. Sebagaimana perlawatan Djaabir ke Sjam dan Abu Aijub ke Mesir untuk mendengar Hadiets.
Sa’ied ibn Musaijab pernah berkata :
“Inniy laa sayrallayaa-liya wal ayyama fii thalabil-hhaditsilwaa hhadi”.
{“Aku berdjalan beberapa malam dan beberapa hari untuk hanja mentjari satu hadiets”}.
Asj Sja’by pernah berkata kepada seorang yang diberikan Hadiets :
“Khudz haa bighairi syai-in faqad kanar-rajulu yarhhalu fiymaa-duwnahaa ilalmadiynahti”.
{“Ambillah akan dia dengan tidak menderita, sesuatu kekuasaan. Dahulu, seseorang harus pergi ke Madienah untuk keperluan yang lebih rendah dari ini”}.
Basjier ibn Abdillah Al Hadiramy berkata : “Saya mengendarai dari kota kebeberapa kota untuk hanja mentjahari hadiets”.
Inilah suatu usaha besar yang dilaksanakan Shahabat,  Tabi’ien dan para Ulama untuk membedakan hadiets yang “s h a h i e h” dari yang tidak {dusta} dan yang kuat dari yang lemah. Dalam soal ini para Ulama mengalami kesulitan dan kesukaran yang besar sekali. Mereka mempeladjari penghidupan perawi, sedjarahnja, perdjalanan hidupnja, dan hal-hal yang tersembunji bagi umum dari keadaan perawi-perawi itu. Maka mereka dengan tidak segan-segan menerangkan tjatatan-tjatatan seorang perawi dan memberitakan keadaannta kepada umum.
Pernah dikatakan orang kepada Jahja ibn Sa’ied ibn Al Qaththaan:
“Apakah tuan tiada takut mereka mendjadi seterumu dihadapan Allah pada hari kiamat ?
Jahja mendjawab : ”Aku lebih suka mendjadi seteru mereka, dari mendjadi seteru Rasulullah s.a.w.  Rasulullah s.a.w. akan bertanja : Mengapa engkau membela sunnahku”.
Untuk ini para Ulama telah mendjadikan suatu hukum buat menentukan mana orang-orang yang boleh diterima riwajatnja dan mana yang tidak. Dan mereka terangkan orang-orang yang tidak boleh sama sekali diterima hadietsnya. Dan para Ulama membahagi hadiets kepada {3} tiga bahagian :  1}. Shahieh.    2}.  Hasan.  3}.   Dla’ief.
Dan untuk mendjaring hadiets, menapisnja dan buat memisahkan hadiets-hadiets yang shahieh, hasan dan dla’ief dari hadiets {maudlu’} yang dipandang seburuk-buruknja hadiets dla’ief, mereka menetapkan dasar-dasar yang harus kita pegangi dalam menentukan hadiets-hadiets maudlu’ itu.  Dengan kita memahami tanda-tanda tersebut, dapatlah dengan mudah kita mengetahui tanda hadiets-hadiets maudlu’ yang sudah banjak disebarkan dalam masjarakat ummat yang awam oleh segolongan yang mempunjai sesuatu maksud kemuskihatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar