Rabu, 04 April 2012

Sedjarah Perkembangan Hadiets.

                                                                                         
                                                                           

     I s l a m  d a n   I l m u  H a d i e t s 

Sedjarah Perkembangan Hadits dalam Abad pertama Hidjriah.
I.       Tjara Shahabat menerima Hadiets. 
     Adalah Rasulullah s.a.w. hidup ditengah-tengah masjarakat, shahabatnya. Mereka dapat bertemu dan bergaul dengan beliau dengan bebas, tak ada suatu yang menghalangi mereka bergaul bebas dengan beliau. Yang tidak dibenarkan untuk mereka, hanja masuk langsung kerumah Nabi s.a.w. kalau beliau tak ada dirumah. yakni, tak boleh mereka terus masuk kerumah dan berbicara dengan para isteri  Nabi s.a.w. dengan tidak memakai hidjab.
Nabi s.a.w. menggauli mereka di mesdjid, dipasar, dirumah, didalam safar dan dikala beliau berada dalam hadlar (tinggal dikota, tidak pergi kemana-mana). Seluruh perbuatan Nabi s.a.w. demikian djuga seluruh utjapan dan tutur kata Nabi s.a.w. menjadi tumpuan perhatian para shahabat. Segala gerak-gerik beliau, mereka djadikan pedoman hidup. Berdasarkan kepada kesungguhan meniru meneladani beliau, berganti-gantilah para shahabat yang djauh rumah dari mesdjid, mendatangi madjelis-madjelis Nabi s.a.w.
“Umar Ibn Khaththab, menurut riwayat Bukhari pernah menerangkan :
“Aku dan seorang temanku (tetanggaku) dari golongan Anshar bertampat dikampung  Bani  Umaijah  Ibn  Zaid : Suatu  kampung  djauh  dikota  Madinah. Kami  berganti-ganti  datang  kepada  Rasulullah  s.a.w.  Kalau  ini  hari  saya yang  turun, esok tetanggaku yang pergi. Kalau saya turun, saya beritakan kepada  tetanggaku  segala  apa  yang  saya dapati dari Nabi s.a.w. Kalau  dia yang pergi demikian djuga. Pada suatu hari pergi shahabatku pada hari gilirannja.  Setelah  Ia  kembali  Ia  mengetuk  pintu  dengan keras serta Ia berkata : Adakah ‘Umar didalam”? Saya terkedjut lalu keluar kepadanja. Ia menerangkan bahwa telah terdjadi suatu keadaan penting, Rasulullah s.a.w. telah menthalaq isteri-isterinja. Saya berkata : Memang saya sudah sangka terdjadi  peristiwa  ini.  Setelah  saya  shalaht    hubuh,    saya pun  berkemas   lalu  pergi,  sampai  kekota  saya  masuk  kerumah  Hafshah, saya  dapati Ia  menangis.  Maka  saya  bertanja :   Apakah  kamu   dithalaq   oleh  Rasul ?  Hafshah  mendjawab :   Saya   tidak   tahu.  Kemudian  saya masuk  kekamar  Nabi s.a.w.  lalu saya berkata,  sedang  saya  berdiri,  apakah  engkau  telah  thalaq  isteri-isteri  engkau,  Nabi s.a.w,  mendjawab : “Tidak”. Kala  itu sayapun  mengutjapkan  “Allahu Akbar”.
Hal ini menerangkan bahwa para shahabat sangat benar memperhatikan kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. sehari-hari, dan sangat benar dapat mengetahui segala apa yang disabdakan Nabi s.a.w.  Karena mereka menjakini, bahwa : Mereka diperintahkan mengikuti Nabi s.a.w. dan mentha’atinja.
Para Shahabat tidak semuanja sama mengetahui keadaan Nabi s.a.w.
Semua shahabat, umumnja menerima hadiets dari Nabi s.a.w. dalam pada itu para shahabat tidak sederadjat semuanja dalam mengetahui keadaan Rasulullah s.a.w. Ada yang berniaga, ada yang bertukang, ada yang sering berada dikota, ada yang sering berpergian, ada yang terus-menerus beribadaht, tinggal di mesdjid.
Diriwayatkan oleh Bukhariy dari Ibn Mas’ud, udjarnja :
“Adalah Nabi Muhammad s.aw. selalu mentjari waktu-waktu yang baik untuk memberikan peladjaran, supaya kami djangan bosan kepadanja”.
Lantaran inilah, Masruq seorang tabi’iy besar berkata :
“Aku  banjak duduk semadjelis dengan para shahabat. Maka ada mereka yang aku  dapati  ibarat  kolam  ketjil,  hanja  mentjukupi buat orang-seorang, ada yang mentjukupi  orang dua orang, dan ada yang tidak akan kering-kering airnja,  walaupun terus-menerus diminum oleh ahli bumi ini”. (Risalah ‘Asj Sjafi’iy : 40)
Para shahabat lebih banjak menerima peladjaran dari Rasulullah s.a.w. ialah :
a.       Yang  duluan  masuk  Islam,  yang  disebut (As-Sabiqunal Awwalun) seumpama :  Khulafaht empat  dan Abdullah  bin Mas’ud.
b.       Yang selalau berada disamping Nabi s.a.w. separti Abu Hurairah dan  Abdullah  bin  ‘Amir bin  ‘Ash.  
Menurut  tjatatan  Adz Dzahabiy,  (31)  Shahabiy  yang banyak meriwajatkan  Hadiets.  Diantaranja,  ‘Aisjah,  Ummu  Salamah,  dan  Khulafa  Rasjidin.
Ketiadaan  dituliskan  Sunnah (Hadiets)  dimasa  Rasul  setjara  sempurna,  sebab-sebabnya  dan  Hukum  menulisnja.
Para  Shahabat  tidak  menuliskan  Sunnah (Hadiets)  mereka  hanja  menulis  akan Al-Qur’an.  Hadiets  pada  kala Nabi Muhammad s.a.w.  masih  hidup,  hanja dingat atau dia  hafaldh sadja  oleh  para  pendengarnja,  tidak  dituliskannja,  apalagi  dibukukannja,  seperti  mereka  menulis  Al-Qur’an.
Hal ini  adalah  karena  ada beberapa  sebab :
a}.   Karena  orang  Arab  yang  pada  masa  itu  sedikit  sekali  pandai  menulis,     berpegang  kuat  pada  ingatannya  dan  hafaldhannya.
b}.   Karena  kebanjakan  pendengar  Hadiets  tidak  pandai  menulis  Al-Qur’an,  walaupun  kurang  yang  pandai  menulis  Nabi Muhammad s.a.w. sengadja  memanggil  yang  pandai  menulis  disetiap  turunnja  Ayat  untuk  menulisnja.  Beliau  tidak  melakukan  terhadap  Hadiets.
c}.     Karena  dikhawatirkan  akan  bercampur  antara  Hadiets  dengan  Al-Qur’an.  Untuk  mendjaga  inilah  Nabi Muhammad s.a.w.  mentjegah  Shahabat  menulis  Hadiets  pada  mula-mulanja.
Imam Muslim  memberitakan  dari  Abu  Sa’ied  Al-Khudriy,  tentang  pernjataan hal ini.  Nabi  Muhammad s.a.w.  bersabda :
“Laa taktubu  ‘aniy-rghaiyral  Qur’aani. Waman-kataba  ‘aniy-rghairal Qur’aani falyam-hhuhu”.
{“Djangan  kamu  tulis  apa  yang  kamu  dengar  dari  padaku,  selain  dari  pada Al-Qur’an.  Barang  siapa  telah  menulis  sesuatu  yang  selain  Al-Qur’an,  hendaklah  dihapuskannja”}.
Seterusnja  Nabi Muhammad s.a.w.  bersabda :
“Wa-hhadditsu  ‘anniy  falaa  hharaja. Waman-kadzaba  ‘alaa  muta-‘ammiydan  falyatabauwwa-amqa-‘adu  minaln-nari”.
{“Dan  tjeritakan  dari  padaku.  Tak  ada  keberatan  kamu  tjeritakan apa  yang  kamu  dengar  dari  padaku. Dan  barang  siapa  berdusta  terhadap  diriku atau membuat  sesuatu  kedustaan,  pada  hal  aku  tadak  mengatakan,  hendaklah  Ia bersedia  menempati  tempat  duduknja  didalam  neraka”}.
Dalam pada hal ini tidak menghalangi ada para shahabat yang menulis Hadiets dengan  tjara yang tidak resmi.  Memang  ada  yang  shahih  menegaskan  adanja  para shahabat menulis  Hadiets  dimasa  Nabi Muhammad s.a.w.
Diriwajat  oleh  Imam  Bukhariy  dalam  shahihnya  dalam  kitab  Al-‘Ilmu   dari  Abu Hurairah,  katanja : 
“Bahwasanja  golongan  Khuzaa’ah  membunuh  seorang  lelaki  dari  Bani  Laits pada tahun  Nabi s.a.w.  menaklukkan  kota  Mekkah  disebabkan  sesuatu pembunuhan  yang  telah  lama dilakukan  oleh  Bani  Laits  terhadap  Bani  Khuzaa’ah.  Kedjadian  itu  diberitahukan  kepada  Nabi s.a.w.  Maka  Nabi s.a.w. menaiki  kenderaannja lalu berkhutbah,  sabdanja “
“Innallaha  hhabasa  ‘anmakkatal-qatla  wasallatha  ‘alaiyhim  Rasulullahi  wal-mukminuuna  wa-annahaa lahum  ta-hhilla  li-a-hhadin  minqab-liy  walan ta-hhilla  li-ahhadiy  ala wa-innahaa hhullat liysaa-‘ahtan  min nahaarin  wa-innahaa-saa  ‘atiy  haadzihi,  hharamun  laa-yukhtalaa  syauwkaha  walaa khadu syajarahaa  walaa  tultaqathu saa qithatuhaa  illal-munsyidin  faman-qatilun  fahuwa  bikhaiyrinn-nazharaiy-ni : immaa  an-yu’qal  wa-immaa  an-yuqaa  da-ahlul-qatiyliy”.
“Bahwasanja  Allah  Ta’ala  mentjegah (melarang) pembunuhan  di Mekkah atau menolak  pembunuhan  dari  Mekkah  dan  telah  diberikan  kekuasaan  negeri  Mekkah  kepada  RasulNja  dan  para  mukmin  dan  bahwasanja  tidak  dihalalkan  bagi  seseorang  sebelumku  dan  sesudahku.  Ketahuilah,  bahwasanja Ia  telah  dihalalkan  bagiku  pada  suatu  sa’at  dalam  satu  siang ;  dan  inilah  sa’atku  ini  Mekkah  itu  “Haram” (suatu  tempat  yang  dilindungi),  tidak  boleh dipotong  durinja,  tidak  boleh  dipotong  pohon-pohonnja,  tidak  boleh  diambil barang-barang  yang  djatuh  dari  yang  punja,  terketjuali  untuk  ditjahari  siapa  yang  punja.  Maka  barang  siapa  telah  dibunuh  terhadapnja  seseorang,  maka Ia  boleh  memilih  salah  satu  dari  dua  pandangan  yang  terbaik. Jaitu,  adakala  Ia  menerima  (diyat),  dan  adakala  Ia  menuntut  bela”.
Sesudah  itu  datanglah  seorang  lelaki  dari  penduduk  Yaman,  lalu  berkata :
“Yaa  Rasulullah s.a.w. tuliskan  untukku”  Maka  bersabda  Nabi s.a.w. : “Uktubuu  li-abiy syaa-hta”. {“Tulislah  untuk  Abu Syah  ini”}.
Selain  dari  itu  diterima pula riwajat  yang  benar  bahwa sebahagian  shahabat mempunjai lembaran-lembaran Hadiets,  mereka dewankan  didalamnja  sebahagian  Hadiets  yang  mereka  dengar  Rasulullah s.a.w,  seperti Shahiefah  Abdullah ibn Amier ibn  ‘Ash,  atau  yang  disebut,  ASH  SHAADIQAH.
Diriwajatkan  oleh  Ahmad  dan  Al-Baihaqy,  dari  Abu Hurairah,  katanya : Tidak  ada seorang  yang  lebih  pandai (lebih mengetahui) dengan  hadiets  Rasulullh s.a.w. dari  padaku,  selain  Abdullah ibn Amier ibn ‘Ash.  Dia  menulis  apa  yang  Ia  dengar,  sedang  aku  tidak  menulisnja “.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar