I s l a m d a
n I l m u
H a d i e t s
Sedjarah
Perkembangan Hadits dalam Abad pertama Hidjriah.
I. Tjara Shahabat menerima Hadiets.
Adalah Rasulullah s.a.w. hidup ditengah-tengah masjarakat, shahabatnya. Mereka dapat bertemu dan bergaul dengan beliau dengan bebas, tak ada suatu yang menghalangi mereka bergaul bebas dengan beliau. Yang tidak dibenarkan untuk mereka, hanja masuk langsung kerumah Nabi s.a.w. kalau beliau tak ada dirumah. yakni, tak boleh mereka terus masuk kerumah dan berbicara dengan para isteri Nabi s.a.w. dengan tidak memakai hidjab.
Adalah Rasulullah s.a.w. hidup ditengah-tengah masjarakat, shahabatnya. Mereka dapat bertemu dan bergaul dengan beliau dengan bebas, tak ada suatu yang menghalangi mereka bergaul bebas dengan beliau. Yang tidak dibenarkan untuk mereka, hanja masuk langsung kerumah Nabi s.a.w. kalau beliau tak ada dirumah. yakni, tak boleh mereka terus masuk kerumah dan berbicara dengan para isteri Nabi s.a.w. dengan tidak memakai hidjab.
Nabi s.a.w. menggauli mereka di mesdjid, dipasar, dirumah, didalam safar dan dikala beliau berada dalam hadlar (tinggal dikota, tidak pergi
kemana-mana). Seluruh perbuatan Nabi s.a.w. demikian djuga seluruh utjapan dan
tutur kata Nabi s.a.w. menjadi
tumpuan perhatian para shahabat. Segala gerak-gerik beliau, mereka djadikan
pedoman hidup. Berdasarkan kepada kesungguhan meniru meneladani beliau, berganti-gantilah
para shahabat yang djauh rumah dari mesdjid,
mendatangi madjelis-madjelis Nabi s.a.w.
“Umar Ibn
Khaththab, menurut riwayat Bukhari pernah menerangkan :
“Aku dan seorang temanku
(tetanggaku) dari golongan Anshar bertampat dikampung Bani Umaijah
Ibn Zaid : Suatu kampung djauh dikota Madinah.
Kami berganti-ganti datang kepada
Rasulullah s.a.w. Kalau
ini hari saya
yang turun, esok tetanggaku yang pergi.
Kalau saya turun, saya beritakan kepada tetanggaku segala apa
yang saya dapati dari Nabi s.a.w. Kalau dia yang pergi demikian djuga. Pada suatu hari
pergi shahabatku pada hari gilirannja. Setelah
Ia kembali Ia mengetuk
pintu dengan keras serta Ia berkata : Adakah ‘Umar
didalam”? Saya terkedjut lalu keluar kepadanja. Ia menerangkan bahwa telah
terdjadi suatu keadaan penting, Rasulullah s.a.w. telah menthalaq isteri-isterinja.
Saya berkata : Memang saya sudah sangka terdjadi peristiwa ini. Setelah saya shalaht hubuh, saya pun berkemas
lalu pergi, sampai kekota saya
masuk kerumah Hafshah, saya dapati Ia menangis. Maka saya
bertanja : Apakah kamu dithalaq
oleh Rasul ? Hafshah mendjawab : Saya tidak tahu. Kemudian saya masuk kekamar Nabi s.a.w. lalu saya berkata, sedang saya berdiri,
apakah engkau telah thalaq
isteri-isteri engkau, Nabi s.a.w, mendjawab : “Tidak”. Kala itu sayapun mengutjapkan
“Allahu Akbar”.
Hal ini menerangkan bahwa para shahabat sangat benar memperhatikan
kehidupan Nabi Muhammad s.a.w.
sehari-hari, dan sangat benar dapat mengetahui segala apa yang disabdakan Nabi s.a.w. Karena mereka menjakini, bahwa : Mereka
diperintahkan mengikuti Nabi s.a.w.
dan mentha’atinja.
Para Shahabat tidak semuanja sama mengetahui keadaan Nabi s.a.w.
Semua shahabat, umumnja menerima
hadiets dari Nabi s.a.w. dalam pada itu para shahabat tidak sederadjat semuanja
dalam mengetahui keadaan Rasulullah
s.a.w. Ada yang berniaga, ada yang bertukang, ada yang sering berada
dikota, ada yang sering berpergian, ada yang terus-menerus beribadaht, tinggal
di mesdjid.
Diriwayatkan oleh Bukhariy dari Ibn Mas’ud, udjarnja :
“Adalah Nabi Muhammad s.aw.
selalu mentjari waktu-waktu yang baik untuk memberikan peladjaran, supaya kami
djangan bosan kepadanja”.
Lantaran inilah, Masruq seorang tabi’iy besar berkata :
“Aku banjak duduk semadjelis dengan para shahabat.
Maka ada mereka yang aku dapati ibarat kolam
ketjil, hanja mentjukupi buat orang-seorang, ada yang
mentjukupi orang dua orang, dan ada yang
tidak akan kering-kering airnja, walaupun
terus-menerus diminum oleh ahli bumi ini”. (Risalah ‘Asj Sjafi’iy : 40)
Para shahabat lebih banjak menerima peladjaran dari Rasulullah s.a.w. ialah
:
a.
Yang duluan masuk Islam, yang disebut
(As-Sabiqunal Awwalun) seumpama : Khulafaht
empat dan Abdullah bin Mas’ud.
b.
Yang selalau berada disamping Nabi s.a.w. separti Abu Hurairah dan Abdullah bin ‘Amir
bin ‘Ash.
Menurut
tjatatan Adz Dzahabiy, (31) Shahabiy
yang banyak meriwajatkan Hadiets. Diantaranja, ‘Aisjah, Ummu Salamah,
dan Khulafa Rasjidin.
Ketiadaan dituliskan Sunnah (Hadiets) dimasa Rasul
setjara sempurna, sebab-sebabnya dan Hukum
menulisnja.
Para Shahabat
tidak menuliskan Sunnah
(Hadiets) mereka hanja menulis
akan Al-Qur’an. Hadiets pada
kala Nabi Muhammad s.a.w. masih hidup, hanja dingat
atau dia hafaldh sadja oleh para
pendengarnja, tidak dituliskannja, apalagi
dibukukannja, seperti mereka
menulis Al-Qur’an.
Hal ini adalah karena
ada beberapa sebab :
a}. Karena orang Arab
yang pada masa
itu sedikit sekali
pandai menulis, berpegang kuat
pada ingatannya dan hafaldhannya.
b}. Karena
kebanjakan pendengar Hadiets
tidak pandai
menulis Al-Qur’an, walaupun kurang
yang pandai menulis Nabi Muhammad
s.a.w. sengadja memanggil
yang pandai menulis
disetiap turunnja Ayat untuk
menulisnja. Beliau tidak melakukan
terhadap Hadiets.
c}. Karena dikhawatirkan
akan bercampur antara
Hadiets dengan Al-Qur’an. Untuk
mendjaga inilah Nabi
Muhammad s.a.w. mentjegah Shahabat menulis
Hadiets pada
mula-mulanja.
Imam Muslim memberitakan dari Abu
Sa’ied Al-Khudriy, tentang
pernjataan hal ini. Nabi
Muhammad s.a.w. bersabda :
“Laa taktubu ‘aniy-rghaiyral Qur’aani. Waman-kataba ‘aniy-rghairal Qur’aani falyam-hhuhu”.
{“Djangan kamu
tulis apa yang
kamu dengar dari
padaku, selain dari pada
Al-Qur’an. Barang siapa
telah menulis sesuatu
yang selain Al-Qur’an,
hendaklah dihapuskannja”}.
Seterusnja Nabi Muhammad s.a.w. bersabda :
“Wa-hhadditsu ‘anniy falaa
hharaja. Waman-kadzaba ‘alaa muta-‘ammiydan falyatabauwwa-amqa-‘adu minaln-nari”.
{“Dan tjeritakan
dari padaku. Tak
ada keberatan kamu
tjeritakan apa yang kamu
dengar dari padaku. Dan
barang siapa berdusta
terhadap diriku atau membuat sesuatu
kedustaan, pada hal
aku tadak mengatakan,
hendaklah Ia bersedia menempati
tempat duduknja didalam
neraka”}.
Dalam pada hal ini tidak menghalangi ada para shahabat yang menulis Hadiets dengan tjara yang tidak resmi. Memang
ada yang shahih menegaskan
adanja para shahabat menulis Hadiets dimasa Nabi Muhammad s.a.w.
Diriwajat oleh Imam Bukhariy dalam shahihnya
dalam kitab Al-‘Ilmu
dari
Abu
Hurairah, katanja :
“Bahwasanja golongan Khuzaa’ah membunuh seorang lelaki dari
Bani Laits pada tahun Nabi s.a.w. menaklukkan
kota Mekkah disebabkan
sesuatu pembunuhan yang telah
lama dilakukan oleh Bani
Laits terhadap Bani Khuzaa’ah. Kedjadian
itu diberitahukan kepada
Nabi s.a.w. Maka Nabi s.a.w. menaiki kenderaannja lalu berkhutbah, sabdanja “
“Innallaha hhabasa ‘anmakkatal-qatla wasallatha
‘alaiyhim Rasulullahi wal-mukminuuna wa-annahaa lahum ta-hhilla
li-a-hhadin minqab-liy walan ta-hhilla li-ahhadiy
ala wa-innahaa hhullat liysaa-‘ahtan
min nahaarin wa-innahaa-saa ‘atiy
haadzihi, hharamun laa-yukhtalaa
syauwkaha walaa khadu
syajarahaa walaa tultaqathu saa qithatuhaa illal-munsyidin faman-qatilun
fahuwa bikhaiyrinn-nazharaiy-ni :
immaa an-yu’qal wa-immaa
an-yuqaa da-ahlul-qatiyliy”.
“Bahwasanja Allah
Ta’ala mentjegah (melarang)
pembunuhan di Mekkah atau menolak pembunuhan
dari Mekkah dan
telah diberikan kekuasaan
negeri Mekkah kepada
RasulNja dan para
mukmin dan bahwasanja
tidak dihalalkan bagi
seseorang sebelumku dan
sesudahku. Ketahuilah, bahwasanja Ia
telah dihalalkan bagiku
pada suatu sa’at
dalam satu siang ;
dan inilah sa’atku
ini Mekkah itu “Haram”
(suatu tempat yang
dilindungi), tidak boleh dipotong durinja,
tidak boleh dipotong
pohon-pohonnja, tidak boleh
diambil barang-barang yang djatuh
dari yang punja,
terketjuali untuk ditjahari
siapa yang punja.
Maka barang siapa
telah dibunuh terhadapnja
seseorang, maka Ia boleh
memilih salah satu
dari dua pandangan
yang terbaik. Jaitu, adakala
Ia menerima (diyat),
dan adakala Ia
menuntut bela”.
Sesudah itu datanglah
seorang lelaki dari penduduk Yaman,
lalu berkata :
“Yaa Rasulullah s.a.w. tuliskan untukku” Maka bersabda Nabi
s.a.w. : “Uktubuu li-abiy syaa-hta”. {“Tulislah untuk Abu Syah
ini”}.
Selain dari itu
diterima pula riwajat yang
benar bahwa sebahagian shahabat
mempunjai lembaran-lembaran Hadiets,
mereka dewankan didalamnja sebahagian
Hadiets yang mereka
dengar Rasulullah s.a.w, seperti Shahiefah Abdullah ibn Amier ibn ‘Ash, atau
yang disebut, ASH SHAADIQAH.
Diriwajatkan oleh Ahmad dan Al-Baihaqy, dari Abu Hurairah, katanya : “ Tidak ada seorang yang
lebih pandai (lebih mengetahui) dengan
hadiets Rasulullh s.a.w. dari padaku,
selain Abdullah ibn Amier ibn ‘Ash. Dia
menulis apa yang
Ia dengar, sedang
aku tidak menulisnja “.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar