Kamis, 19 April 2012

Timbul pemalsuan Hadiets

                                                                                          
                                                                          
                                                I s l a m  d a n   I l m u  H a d i e t s 
Mulai Timbul Pemalsuan Hadiets.
Keadaan perkembangan Hadiets berdjalan hingga tahun 40 Hidjriah.  Pada tahun itu batas yang memisahkan antara masa terlepas Hadiets dari pemalsuan, dengan masa mulai pertumbuhan pemalsuan Hadiets itu.
Sedjak dari timbul fitnah diakhir masa ‘Utsman r.a. umat Islam petjah mendjadi beberapa golongan.
1}. Pertama : Goloangan  ‘Ali ibn Abi Thalib, yang  kemudiannya  mendjadi {Syi’ah}.
2}. Kedua    : Golongan  Khawaaridj  yang  menentangi  ‘Ali  dan  Mu’awijah.
3}. Ketiga     : Golongan Djumhur, golongan pemerintahan pada masa itu {Sunnah}.
Terpetjahnya ummat Islam kepada golongan-golongan tersebut, membawa masing-masing mereka, didorong oleh keperluan dan kepentingan golongan. Maka bertindaklah  mereka membuat  Hadiets-hadiets  p a l s u  dan menjebarkannja dalam masjarakat. Mulai sa’at  tersebut  terdapatlah diantara riwajat-riwajat yang shahih, dan riwajat-riwajat palsu.
Mula-mula mereka memalsukan Hadiets mengenai pribadi-pribadi orang-orang yang  mereka agung-agungkan. Dan yang mula-mula melakukan pekerdjaan ini adalah Golongan Syi’ah, sebagai yang  diakui  sendiri oleh Ibnu Abil Hadied, seorang Ulama syi’ah dalam kitabnja Nahdjul Balaaghah, utjapannja :
 “Ketahuilah  bahwa  asal-asalnja  timbul  hadiets-hadiets  yang  menerangkan  keutamaan  pribadi-pribadi  yang  diperbuat oleh golongan syi’ah itu.
Perbuatan mereka ini ditandingi oleh golongan Sunnah {Djumhur} yang bodoh-bodoh. Mereka djuga membuat hadiets buat mengimbangi, atau menandingi hadiets-hadiets yang diperbuat oleh golongan syi’ah. Maka dengan keterangan ringkas  ini, njatalah  bahwa : tempat yang mula-mula mengembangkan hadiets-hadiets palsu {maudhu’}, di kota Iraq {tempat berpusatnya kaum syi’ah itu}.
Imam Az Zuhri berkata : “Keluar hadiets dari kami sedjengkal, lalu kembali kepada kami dari ‘Iraq sehasta”.  Imam Maalik sendiri menamai kota Iraq {penghasil hadiets palsu}.
Sebab-sebab timbul usaha pemalsuan Hadiets.
Walaupun pada mula-mulanja yang menjebabkan timbul pemalsuan Hadiets, urusan politik, namun sebab-sebab itu, kian hari kian bertambah djua. Maka djika dikumpulkan sebab-sebab pemalsuan itu, terdapatlah garis besarnja :
{1}.     Pertama : Perselisihan politik dalam soal Khalifaht.
Golongan-golongan politik pada masa itu, ada yang banjak membuat hadiets-hadiets palsu, ada yang sedikit.  Yang paling banjak membuat hadiets untuk kepentingan golongan, ialah golongan Syi’ah dan Raafidhah.
Golongan {syi’ah} membuat hadiets mengenai ke {Khalifahan ‘Ali}, ya’ni mengenai keutamaannja yaitu {Ahlul Bait}. Di samping itu mereka membuat pula hadiets-hadiets  yang  maksudnja  mentjela  dan memburukkan para  Shahabat yang istimewa seperti Abu Bakar r.a. dan ‘Umar ibn Kaththab r.a.
Menurut penerangan Al Khalily dalam kitab Al Irsjaad, para raafidhah telah membuat hadiets palsu mengenai keutamaan Alie dan Ahli Bait, sejumlah lebih kurang {300.000} Hadiets.
Sedikit ditegaskan bahwa kebanjakan orang Raafidhah terdiri dari orang Persie.  Mereka  masuk  Islam dengan jiwa keberhalaan. Yaitu boleh berdusta, menurut pendapat mereka, demi untuk kebaikkan.
Diantara hadiets yang mereka buat itu ialah :
“Man araada-an  yanzhura  ilaa Adam fi’ilmihi, wa ilaa Nuhin  fi-taqwahu, wa ilaa  Ibrahima  fi-hilmihi, wa ila  Musa fi haibatihi, wa ila  Isa  fi ibadatihi  fal  yanzhur ilaa  Aliyyin”.
“Barang  siapa  ingin  melihat  kepada Adam tentang ketinggian ‘ilmunja, ingin melihat Nuh  tentang ketaqwaannja, ingin melihat kepada Ibrahim tentang kebaikan hatinya, ingin melihat kepada Musa tentang kehebatannja, melihat Isa tentang ibadahtnja, maka hendaklah  Ia  melihat  kepada Ali”.
Dan seperti yang lainnja :
Idzaa ra-aytum mu’aawiyata ‘alaa minbari faqtuluuhu”.
Apabila kamu lihat Mu’awiyah atas mimbarku, bunuhlah akan dia”.
Golongan Djamhur yang tiada pengetahuan, yang tiada menginsyafi akibat pemalsuan itu, mengimbangi pula tindakan-tindakan kaum Syi’ah.
Ini hadiets yang mereka buat :
“Maa fil jannahti syajarahtun illa maktubun ‘alaa kulli waraqahtin : Laa ilaha illallahu Muhammadunr-Rasulullahi Abu Bakar Ash Shiddieq, ‘Umar Al Faruq, ‘Utsman Dzunnuraini.
{Tak ada sesuatu pohon dalam syurga, melainkan tertulis pada tiap-tiap daunnya : Laa ilaaha illallahu, Muhammadur-Rasulullah, Abu Bakar Ash Shiddieq, ‘Umar Al Faruq, dan ‘Utsman Dzunnuraini}”.
Golongan yang fanatik kepada Mu’awiyah membuat hadiets yang menerangkan keutamaannja. Mereka mendakwa bahwa Nabi bersabda :
“Al amanaa-u tsalatsatun : Ana wa  jibriylu wamu-‘aawiyatu”.
“Orang yang kepertjayaan hanja tiga orang sadja. Saya, Jibril dan Mu’awiyah”.
{2}.     Kedua : Zandaqah. { Rasa dendam }
Golongan yang tidak menyukai perkembangan Islam dan kedjayaan pemerintahannya. Memang Islam, dengan berdirinya itu telah merobohkan singgahsana, beberapa keradjaan dan menghilangkan kebesaran-kebesaran yang dimiliki beberapa bangsawan tertentu.  Para ummat Islam yang merasai bahwa didalam Islam memperoleh kemuliaan pribadi manusia, memperoleh kehormatan Aqiedah.
Keadaan  ini menjakitkan benar hati orang yang menaruh dendam kepada Islam dan Kekuasaannja. Maka oleh karena mereka tidak memperoleh djalan untuk merobohkan kedaulatan Islam yang sudah amat kokohnja, mereka berupaja mengeruhkan Islam dan menghilangkan kedjernihannja dengan djalan membuat hadiets-hadiets palsu, agar dengan demikian keruhlah keadaan tersebut.
Mereka tidak memperoleh djalan untuk memasukkan tambahan-tambahan kedalam  Al Qur’an,  pintu  As Sunnah, masih mungkin mereka masuki dengan tambahan-tambahan yang mereka bawakan. Di antara tjontoh-tjontoh hadiets yang mereka  {wadha’kan} :
“Innallaha lamma khalaqal hhurufa sajadatil-baa-u wa waqafatil-alifu”
{Bahwasanya Allah dikala  mendjadikan  huruf, bersudjudlah  baa dan tegak  berdirilah alief}”.
{3}.   Ketiga : Ashabiyah, {fanatik Kebangsaan, Kekabilahan, dan Ke Imanan}.
Mereka yang fanatik kebangsaan Persia membuat hadiets :
“Innallaha idza ghadhiba andzalal wahhya bil ‘arabiyaht. Wa idza radhiyah andzalal wahhya bil farisiyyahti”
“Bahwasanya Allah apabila marah menurunkan wahyu dengan bahasa ‘Arab dan apabila menurunkan ridha menurunkan wahyu dengan bahasa Persie”
Ulah laku mereka dan ditingkah oleh golongan ‘Arab yang bodoh-bodoh  dengan katanya, bersabda Nabi :
“Innallaha idza ghadhiba andzalal wahhya bil farisiyyahti. Wa idza radhiyah andzalal wahhya bil ‘arabiyaht”.
“Bahwasanya Allah apabila marah menurunkan wahyu dari bahasa Persie dan apabila ridha, menurunkan wahyu dengan bahasa ‘Arab”.
{4}.     Keempat : Hikayat-hikayat { kisah-kisah }.
Pengadjaran-pengadjaran yakni : Keinginan minat para pendengar dengan djalan kisah-kisah dan hikayat-hikayat yang menarik dan menakjubkan.
Umpamanja :
Ibnu Qutaibah menerangkan diketika membitjarakan perihal ahli-ahli kisah begini.  Dikala para qushshah-qushshah menarik dan membangun minat serta perhatian ummat dengan djalan membuat riwajat-riwajat palsu, timbul pula hadiets maudzu’. Orang awam memang tertarik sekali hatinja kepada tjeritera yang mena’djubkan, yang tak dapat difikir ‘aqal, atau memiluhkan gundahan hati. Maka dikala mereka menerangkan perihal sjurga, mereka menerangkan bahwa budiadari itu tjantiknja begini, indahnja begini. Ditempatkan Allah Ta’ala dalam mahligai yang terbuat dari mutiara, intan baiduri. Pada tiap-tiap istana itu terdapat tudjuh ratus andjung. Tiap-tiap andjung mempunjai tudjuh ratus kubah.
Diantara Hadiets yang mereka palsukan ialah :
“Man qaala laa ilaha illallahu khalaqallahu minkulli kalimahtin tha-iran : minqaaruhu min dzahabin wariy-tsuhu min marajanin”.
“Barang siapa membatja Laa ilaaha illallah, nitstjaja Allah mendjadikan dari tiap-tiap kalimahtnja se-ekor burung, paruhnja dari emas dan tubuhnja dari mardjan”.
Golongan ini sangat berani membuat hadiets-hadirts dusta.
{5}.     Kelima : Perselisian faham masalah Fiqih dan Kalam.
Para pengikut Mazhab dan pengikut-pengikut Ulama Kalam yang tidak mengerti, membuat pula beberapa hadieits palsu untuk menguatkan faham pendirian imamnya. Mereka yang fanatik kepada Mazhab Abu Hanifah membuat hadiets :
“Man rafa’a yadayhi falaa shalaahta lahu”
“Barang siapa mengangkat kedua tangannja, tak adalah sembahjang baginja”.
Mereka yang fanatik kepada Mazhab Asj Sjafi’y berkata, Nabi bersabda :
“Ammaniy jibriylu ‘indal-laka’bahti  fajahara bismillahir-rahh-manirra-hhimi”.
“Aku beriman kepada Jibril disisi Ka’bah, maka Ia menjaringkan Bismillahir-rahmanir-rahimi”.
{6}.      Keenam : Pendapat yang membolehkan membuat hadiets untuk kebaikkan.
Ada golongan yang berpendapat : Tidak salah membuat hadiets Nabi untuk menarik minat ummat kepada ibadaht.  Mereka berpendapat, bahwa berdusta demi kebaikkan boleh.
Hadiets-hadiets tersebut dibuat oleh Nuh ibn Abi Marjam. Dikala ditanjak kepadanja, Ia mendjawab :
“Saya  dapati  manusia  telah  berpalaing  dari  membatja Al Qur’an,  maka saya membuat hadiets-hadiets ini untuk menarik ummat kepada Al Qur’an itu kembali”.
{7}.    Ketudjuh : Mendekatkan diri kepada pembesar negeri.
Untuk memperoleh penghargaan yang baik dari para pembesar, istimewa dari pada Khulafaht, Ulama-ulama Su’ membuat hadiets-hadiets yang dapat dipergunakan untuk membaikkan sesuatu perbuatan mereka.
Ghijaats ibn Ibrahiem pada suatu hari masuk ke mahligai Al Mahdy yang sedang menjabung burung merpati, maka berkatalah Ia :
Bersabda Nabi s.a.w. :
“Laa sabaqa illa fiy fashlin awhhafirin. Aw janaa-hhin”
“Hanja diharuskan kita bertaruh dalam pelemparan panah, dalam memperlombakan kuda dan dalam memperadukan burung yang bersajap”.
 {perkataan yang terakhir ini, adalah tambahan dari Ghijaats itu}.
Wal hasil orang-orang yang membuat hadiets itu ada sembilan golongan.
1)              Zanadiqah.
2)              Ahli Bid’ah.
3)              Fanatik golongan.
4)         Ta’ashshub kepada kebangsaan, kenegerian dan keimanan.
5)              Ta’ashshub Mazhab.
6)              Para Qushshash { Ahli riwajat dongeng }.
7)              Para Ahli Tashawwuf  Zuhhad { yang keliru, palsu }.
8)              Mereka yang mentjari penghargaan pembesar negeri.
9)      Dan orang-orang yang ingin memegahkan dirinja dengan dapat meriwajatkan hadiets yang tidak diperoleh orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar