I s l a m d a n I l m u H a d i e t s
Mulai Timbul Pemalsuan Hadiets.
Keadaan perkembangan Hadiets berdjalan hingga tahun 40 Hidjriah. Pada tahun itu batas yang memisahkan
antara masa terlepas Hadiets dari
pemalsuan, dengan masa mulai pertumbuhan
pemalsuan Hadiets itu.
Sedjak dari timbul fitnah diakhir masa ‘Utsman
r.a. umat Islam petjah mendjadi beberapa golongan.
1}. Pertama : Goloangan ‘Ali ibn Abi Thalib, yang kemudiannya mendjadi {Syi’ah}.
2}. Kedua : Golongan Khawaaridj yang menentangi
‘Ali dan Mu’awijah.
3}. Ketiga : Golongan Djumhur, golongan pemerintahan
pada masa itu {Sunnah}.
Terpetjahnya ummat Islam kepada
golongan-golongan tersebut, membawa masing-masing mereka, didorong oleh
keperluan dan kepentingan golongan. Maka bertindaklah mereka membuat Hadiets-hadiets p a l s u dan menjebarkannja dalam masjarakat. Mulai
sa’at tersebut terdapatlah diantara riwajat-riwajat yang shahih,
dan riwajat-riwajat palsu.
Mula-mula mereka memalsukan Hadiets
mengenai pribadi-pribadi orang-orang yang mereka agung-agungkan. Dan yang mula-mula
melakukan pekerdjaan ini adalah Golongan
Syi’ah, sebagai yang diakui sendiri oleh Ibnu Abil Hadied, seorang Ulama
syi’ah dalam kitabnja Nahdjul
Balaaghah, utjapannja :
“Ketahuilah
bahwa asal-asalnja timbul
hadiets-hadiets yang menerangkan
keutamaan pribadi-pribadi yang
diperbuat oleh golongan syi’ah itu.
Perbuatan mereka ini ditandingi oleh
golongan Sunnah {Djumhur} yang bodoh-bodoh. Mereka djuga
membuat hadiets buat mengimbangi, atau menandingi hadiets-hadiets yang diperbuat oleh golongan syi’ah. Maka dengan keterangan ringkas ini, njatalah
bahwa : tempat yang mula-mula mengembangkan hadiets-hadiets palsu {maudhu’}, di kota Iraq {tempat berpusatnya kaum syi’ah itu}.
Imam Az Zuhri berkata : “Keluar hadiets dari kami sedjengkal, lalu kembali kepada kami dari
‘Iraq sehasta”. Imam Maalik sendiri menamai kota Iraq {penghasil hadiets
palsu}.
Sebab-sebab timbul usaha pemalsuan Hadiets.
Walaupun pada mula-mulanja yang
menjebabkan timbul pemalsuan Hadiets, urusan politik, namun sebab-sebab itu,
kian hari kian bertambah djua. Maka djika dikumpulkan sebab-sebab pemalsuan
itu, terdapatlah garis besarnja :
{1}. Pertama : Perselisihan politik
dalam soal Khalifaht.
Golongan-golongan politik pada
masa itu, ada yang banjak membuat hadiets-hadiets
palsu, ada yang sedikit. Yang paling
banjak membuat hadiets untuk
kepentingan golongan, ialah golongan Syi’ah
dan Raafidhah.
Golongan {syi’ah} membuat
hadiets mengenai ke {Khalifahan ‘Ali},
ya’ni mengenai keutamaannja yaitu {Ahlul
Bait}. Di samping itu mereka
membuat pula hadiets-hadiets yang maksudnja
mentjela dan memburukkan
para Shahabat yang istimewa seperti Abu
Bakar r.a. dan ‘Umar ibn Kaththab
r.a.
Menurut penerangan Al Khalily
dalam kitab Al Irsjaad, para raafidhah telah membuat hadiets palsu
mengenai keutamaan Alie dan Ahli Bait, sejumlah lebih kurang {300.000} Hadiets.
Sedikit ditegaskan bahwa kebanjakan orang Raafidhah terdiri dari orang Persie.
Mereka masuk Islam dengan jiwa keberhalaan. Yaitu boleh berdusta,
menurut pendapat mereka, demi untuk
kebaikkan.
Diantara hadiets yang mereka buat
itu ialah :
“Man araada-an
yanzhura ilaa Adam fi’ilmihi, wa
ilaa Nuhin fi-taqwahu, wa ilaa Ibrahima
fi-hilmihi, wa ila Musa fi
haibatihi, wa ila Isa fi ibadatihi
fal yanzhur ilaa Aliyyin”.
“Barang siapa
ingin melihat kepada Adam tentang ketinggian ‘ilmunja,
ingin melihat Nuh tentang ketaqwaannja,
ingin melihat kepada Ibrahim tentang kebaikan hatinya, ingin melihat kepada
Musa tentang kehebatannja, melihat Isa tentang ibadahtnja, maka hendaklah Ia melihat
kepada Ali”.
Dan seperti yang lainnja :
“Idzaa ra-aytum
mu’aawiyata ‘alaa minbari faqtuluuhu”.
“Apabila kamu lihat Mu’awiyah atas mimbarku, bunuhlah akan dia”.
Golongan Djamhur yang tiada
pengetahuan, yang tiada menginsyafi akibat pemalsuan itu, mengimbangi pula tindakan-tindakan
kaum Syi’ah.
Ini hadiets yang mereka buat :
“Maa fil jannahti syajarahtun illa maktubun ‘alaa kulli
waraqahtin : Laa ilaha illallahu Muhammadunr-Rasulullahi Abu Bakar Ash
Shiddieq, ‘Umar Al Faruq, ‘Utsman Dzunnuraini.
“{Tak ada sesuatu pohon dalam syurga,
melainkan tertulis pada tiap-tiap daunnya : Laa ilaaha illallahu,
Muhammadur-Rasulullah, Abu Bakar Ash Shiddieq, ‘Umar Al Faruq, dan ‘Utsman
Dzunnuraini}”.
Golongan yang fanatik kepada Mu’awiyah membuat hadiets yang menerangkan keutamaannja. Mereka mendakwa bahwa Nabi bersabda :
“Al amanaa-u tsalatsatun : Ana wa jibriylu wamu-‘aawiyatu”.
“Orang yang kepertjayaan hanja tiga
orang sadja. Saya, Jibril dan Mu’awiyah”.
{2}. Kedua : Zandaqah. { Rasa dendam }
Golongan yang tidak menyukai perkembangan
Islam dan kedjayaan pemerintahannya. Memang Islam, dengan berdirinya itu telah merobohkan singgahsana, beberapa keradjaan
dan menghilangkan kebesaran-kebesaran
yang dimiliki beberapa bangsawan tertentu. Para ummat
Islam yang merasai bahwa didalam Islam memperoleh kemuliaan pribadi manusia, memperoleh kehormatan Aqiedah.
Keadaan ini menjakitkan benar hati
orang yang menaruh dendam kepada Islam dan Kekuasaannja. Maka oleh karena mereka tidak memperoleh djalan untuk
merobohkan kedaulatan Islam yang
sudah amat kokohnja, mereka berupaja mengeruhkan Islam dan menghilangkan kedjernihannja dengan djalan membuat
hadiets-hadiets palsu, agar dengan demikian keruhlah keadaan tersebut.
Mereka tidak memperoleh djalan untuk memasukkan tambahan-tambahan
kedalam Al Qur’an, pintu As
Sunnah, masih mungkin mereka masuki dengan tambahan-tambahan yang mereka
bawakan. Di antara tjontoh-tjontoh hadiets
yang mereka {wadha’kan} :
“Innallaha lamma khalaqal hhurufa sajadatil-baa-u wa waqafatil-alifu”
“{Bahwasanya Allah dikala mendjadikan huruf, bersudjudlah
baa
dan tegak berdirilah alief}”.
{3}. Ketiga : Ashabiyah, {fanatik Kebangsaan, Kekabilahan, dan Ke Imanan}.
Mereka yang fanatik kebangsaan
Persia membuat hadiets :
“Innallaha idza ghadhiba andzalal wahhya bil ‘arabiyaht.
Wa idza radhiyah andzalal wahhya bil farisiyyahti”
“Bahwasanya Allah apabila marah
menurunkan wahyu dengan bahasa ‘Arab dan apabila menurunkan ridha menurunkan
wahyu dengan bahasa Persie”
Ulah laku mereka dan ditingkah oleh golongan ‘Arab yang bodoh-bodoh
dengan katanya, bersabda Nabi :
“Innallaha idza ghadhiba andzalal wahhya bil
farisiyyahti. Wa idza radhiyah andzalal wahhya bil ‘arabiyaht”.
“Bahwasanya Allah apabila marah
menurunkan wahyu dari bahasa Persie dan apabila ridha, menurunkan wahyu dengan
bahasa ‘Arab”.
{4}. Keempat : Hikayat-hikayat { kisah-kisah }.
Pengadjaran-pengadjaran yakni : Keinginan minat para pendengar dengan
djalan kisah-kisah dan hikayat-hikayat yang menarik dan menakjubkan.
Umpamanja :
Ibnu Qutaibah menerangkan diketika membitjarakan
perihal ahli-ahli kisah begini. Dikala para qushshah-qushshah menarik dan membangun minat serta perhatian ummat
dengan djalan membuat riwajat-riwajat palsu, timbul pula hadiets maudzu’. Orang awam memang tertarik sekali hatinja kepada
tjeritera yang mena’djubkan, yang tak dapat difikir ‘aqal, atau memiluhkan gundahan hati. Maka dikala mereka
menerangkan perihal sjurga, mereka
menerangkan bahwa budiadari itu
tjantiknja begini, indahnja begini. Ditempatkan Allah Ta’ala dalam mahligai
yang terbuat dari mutiara, intan
baiduri. Pada tiap-tiap istana itu terdapat tudjuh ratus andjung. Tiap-tiap
andjung mempunjai tudjuh ratus kubah.
Diantara Hadiets yang mereka palsukan
ialah :
“Man qaala laa ilaha illallahu khalaqallahu minkulli
kalimahtin tha-iran : minqaaruhu min dzahabin wariy-tsuhu min marajanin”.
“Barang siapa membatja Laa ilaaha
illallah, nitstjaja Allah mendjadikan dari tiap-tiap kalimahtnja se-ekor burung,
paruhnja dari emas dan tubuhnja dari mardjan”.
Golongan ini sangat berani membuat
hadiets-hadirts dusta.
{5}.
Kelima : Perselisian faham masalah Fiqih dan Kalam.
Para pengikut Mazhab dan
pengikut-pengikut Ulama Kalam yang
tidak mengerti, membuat pula beberapa hadieits
palsu untuk menguatkan faham pendirian imamnya.
Mereka yang fanatik kepada Mazhab Abu Hanifah membuat hadiets :
“Man rafa’a yadayhi falaa shalaahta lahu”
“Barang siapa mengangkat kedua
tangannja, tak adalah sembahjang baginja”.
Mereka yang fanatik kepada Mazhab Asj Sjafi’y berkata, Nabi bersabda :
“Ammaniy jibriylu ‘indal-laka’bahti fajahara bismillahir-rahh-manirra-hhimi”.
“Aku beriman kepada Jibril disisi
Ka’bah, maka Ia menjaringkan Bismillahir-rahmanir-rahimi”.
{6}. Keenam
: Pendapat yang membolehkan membuat hadiets untuk kebaikkan.
Ada golongan yang berpendapat : Tidak salah membuat hadiets Nabi untuk
menarik minat ummat kepada ibadaht. Mereka berpendapat, bahwa berdusta demi kebaikkan boleh.
Hadiets-hadiets tersebut dibuat oleh Nuh ibn Abi Marjam. Dikala ditanjak
kepadanja, Ia mendjawab :
“Saya dapati
manusia telah berpalaing
dari membatja Al Qur’an, maka saya membuat hadiets-hadiets ini untuk
menarik ummat kepada Al Qur’an itu kembali”.
{7}. Ketudjuh : Mendekatkan diri kepada
pembesar negeri.
Untuk memperoleh penghargaan yang baik dari para pembesar, istimewa dari
pada Khulafaht, Ulama-ulama Su’ membuat hadiets-hadiets yang dapat dipergunakan
untuk membaikkan sesuatu perbuatan mereka.
Ghijaats ibn Ibrahiem pada suatu hari masuk ke mahligai Al Mahdy yang sedang menjabung
burung merpati, maka berkatalah Ia :
Bersabda Nabi s.a.w. :
“Laa sabaqa illa fiy fashlin awhhafirin. Aw janaa-hhin”
“Hanja diharuskan kita bertaruh
dalam pelemparan panah, dalam memperlombakan kuda dan dalam memperadukan burung
yang bersajap”.
{perkataan yang terakhir ini, adalah tambahan
dari Ghijaats itu}.
Wal hasil orang-orang yang membuat
hadiets itu ada sembilan golongan.
1)
Zanadiqah.
2)
Ahli Bid’ah.
3)
Fanatik golongan.
4) Ta’ashshub kepada kebangsaan,
kenegerian dan keimanan.
5)
Ta’ashshub Mazhab.
6)
Para Qushshash { Ahli riwajat dongeng }.
7)
Para Ahli Tashawwuf Zuhhad { yang keliru, palsu }.
8)
Mereka yang mentjari penghargaan
pembesar negeri.
9) Dan orang-orang yang ingin
memegahkan dirinja dengan dapat meriwajatkan hadiets yang tidak diperoleh orang
lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar