Senin, 14 Mei 2012

Masa membukukan Hadiets.

                                                                                         
                                                                          
                                                I s l a m  d a n   I l m u  H a d i e t s 


Masa membukukan Hadiets.
Para Ahli abad yang (2) kedua sebagai yang telah diterangkan tidak mengasingkan hadiets dari fatwa-fatwa Shahabat dan Tabi’ien. Keadaan ini diperbaiki oleh ahli abad yang (3) ketiga. Ahli abad yang ke tiga, dikala mereka bangun mengumpulkan hadiets, mereka mengasingkan hadiets dari fatwa-fatwa itu. Mereka dewankan hadiets sahadja dalam dewan-dewan hadiets. Akan tetapi, satu kekurangan pula yang harus di akui ialah : Mereka tidak memisah-misahkan hadiets. Yakni, mereka mentjampur baurkan Hadiets Shahieh dengan Hadiets Hasan dan dengan Hadiets Dla’ief. Segala Hadiets yang mereka terima, mereka dewankan dengan tidak menerangkan ke shahiehannja atau ke hasanannja, atau ke dla’iefannja. Lantaran demikian tak dapatlah orang yang kurang ahli mengambil hadiets-hadiets yang terdewan didalamnja.
Permulaan Imam mendewankan Hadiets.
Sekiranja kekeruhan itu terus-menerus berlaku tentulah tidak dapat meminum airnya dan tak dapat beramal dengan dia, apalagi mengingat bahwa dimasa itu telah muntjul orang-orang Zindiq dan Jahudy yang membuat hadiets-hadiets palsu dengan djalan yang sangat litjin, yang sukar diketahui kepalsuannja.
Maka untuk mendjaringkan segala hadiets itu : untuk membedakan hadiets-hadiets shahih dari yang palsu, seorang imam Hadiets Ishaaq ibn Rahawaih, memisahkan hadiets-hadiets yang shahih dengan tidak shahih. Pekerjaan yang mulia ini beliau dibantu dan diselenggarakan lebih lanjut oleh Imam Bukhary. Didalam beliau dewankan segala hadiets yang dipandang shahih. Usaha Imam Bukhary diteruskan lagi oleh seorang muridnya yang sangat ‘Alim, Imam Muslim. Sesudah shahih Bukhary dan shahih Muslim tersusun, berdiri pula beberapa imam lain mengikuti djedjak kedua imam besar itu. Dengan apa yang dilakukan imam Bukhary, Muslim dan imam-imam lain itu, yang kesemuanja dari ahli abad yang ketiga (3), terkumpullah djumlah yang sangat besar dari hadiets-hadiets yang shahih. Sedikit sadja Hadiets-hadiets shahih yang tak terkumpul dalam kitab ahli hadiets abad ketiga, yang diusahakan mengumpulkannya oleh ahlai-ahli hadiets di abad yang ke empat (4).
Memang sesudah kitab Ibnu Djuraidj dan Muwaththa’ Maalik tersebar didalam kalangan ummat Islam dan disambut oleh ummat dengan gembira. Pada mula-mulanja ‘Ulama-ulama Islam, manerima hadiets dari segala perawi-perawi dan lalu menulis kedalam bukunja, sesudah ia hafadhkan. Dikala musuh-musuh Islam yang didalam selimut melihat kegiatan ‘Ulama-‘ulama Hadiets telah sebegitu rupa, bangunlah mereka membuat hadiets, menambah-nambahkan perkataan membuat hadiets Maudlu’. Pada mulanya penjakit ini berjangkit di Iraq.
‘Ulama Islam mengetahui hal itu, bersungguh-sungguhlah mereka mengatur aturan-aturan menerima hadiets, menentukan shifat-shifat orang yang boleh diterima hadietsnja, menetapkan keadaan orang yang ditolak hadietsnja. Mulailah mereka membahaskan hal ihwal perawi-perawi itu dengan sungguh-sungguh shingga mereka dapat mejakini siapa yang diterima riwajatnja dan siapa yang tidak, yang ditunda hadietsnja. Untuk mentjahari pendjelasan, ‘Ulama-‘Ulama Islam mengatur ( ‘ilmu musthalah ). Mulailah mereka memisahkan hadiets yang shshih dari yang dla’if, mengambil yang dapat diambil, menolak yang patut di tolak.
Al Bukhary  memilih hadiets dengan mengadakan beberapa sjarat, maka beliau telah dapat menshahkan {“9082”} hadiets dari {“60.000”] hadiets. Dan Muslim telah dapat menshahihkan (“6000”) enam ribu hadiets dari sedjumlah (“300.000”) hadiets.
Kitab sunnah tersusun dalam abad ke tiga (3).
1.       Al Djami’ush Shahieh, susunan : Al Bukhary.
2.       Al Djami’ush Shahieh, susunan : Muslim.
3.       As Sunan,                     susunan : An Nasaa-IE.
4.       As Sunan,                     susunan : Abie Daaud.
5.       As Sunan,                     susunan : At Turmudzy.
6.       As Sunan,                     susunan : Ibnu Madjaah.
7.       Musnad Ahmad,           susunan : Imam Ahmad.
8.       As Sunan,                     susunan : Ad Daarimy.
9.       Al Muntaqaa,                susunan : Ibnul Djaarud.
10.       Al Musnad,                   susunan : Abu Ja’laa.
11.       Al Musnad,                   susunan : Al Humaidij.
12.       Al Musnad,                   susunan : ‘Alie Al Madaa-inie.
13.       Al Musnad,                   susunan : Al Bazzaar.
14.       Al Musnad,                   susunan : Baqi ibn Mukhlad.
15.       Al Musnad,                   susunan : Ibnu Rahawaih.
Maka dengan perlakuan Imam besar abad yang ke (3) tiga, tersusunlah Tiga macam kitab Hadiets dalam abad yang ketiga ini.
Pertama : Kitab-kitab Shahieh.
Kedua    : Kitab-kitab Sunan.
Ketiga    : Kitab-kitab Musnad. 

1.   Kitab-kitab Shahieh, ialah : “Kitab-kitab yang menjusunnja tiada memasukkan kedalamnja, selain dari Hadiets-Hadiets yang Shahieh sadja”.
2.         Kitab-kitab Sunan (selain dari Sunan Ibnu Madjah), ialah: “Kitab-kitab yang pengarangnja tiada memasukkan Hadites-Hadiets yang munkar dan yang serupanja. Adapun hadiets-hadiets (dla’ief) yang tidak munkar dan tidak sangat lemah, terdapat djuga didalamnja, dan kebanjakan diterangkan ke dla’iefnja oleh pengarangnja sendiri”.
3. Kitab-kitab Musnad, ialah :“Kitab-kitab yang penjusunnja memasukkan kedalamnja segala rupa Hadiets yang diterima dengan tidak menjaringnja dan tidak menerangkan deradjat-deradjatnja”.
“Disebabkan demikian, deradjatnja dibawah deradjat kitab Sunan dan mengambil Hadiets dari padanja hanja diharuskan kepada orang-orang yang ahli menjaring, ahli menjelidik, mengerti hal ihwal Hadiets dan seluk beluknja.

Sabtu, 05 Mei 2012

Mendewankan Hadiets.

                                                                                         
                                                                         
                                               I s l a m  d a n   I l m u  H a d i e t s 
Mendewankan hadiets abad kedua hidjrah dan kitabnja.
Sebab-sebab yang menimbulkan usaha pendewanan hadiets.
Permulaan zaman membukukan hadiets dalam dewan hadiets.
Dapat sudah difahamkan, bahwa di dalam masa  abad pertama hidjrah, mulai dari masa Rasulullah s.a.w. masa khulafa Rasjidien dan sebahagian besar dari zaman Amawijah ya’ni hingga akhir abad pertama hijrah, hadiets-hadiets itu berpindah dari mulut-kemulut. Masng-masing perawi meriwajatkannja berdasar kekuatan hafadhannja. Mereka pada masa itu pun belummempunyai motiv-motiv yang menggerakkan mereka kepada pembukuan. Hafadhan mereka terkenal kuat. Diakui sedjarah kekuatan hafadhan para shahabat dan tabi’ien itu.
Dikala kendali Khalifah dipegang oleh ‘Umar Ibn Abdil ‘Aziz seorang khalifah dari kekuasaan Amawijah yang terkenal adil dan wara’ sehinggah beliau dipandang sebagai khalifah Rasjidien yang kelima (5), tergeraklah hatinja untuk mendewankan hadiets. Beliau insyaf, bahwa para perawi yang memendaharakan hadiets dalam hatinja, kian lama kian banjak yang meninggal dunia. Beliau khawatir apabila tidak segera dibukukan dan dikumpulkan dalam dewan-dewan hadiets dari para perawinja, mungkunlah hadiets-hadiets itu akan lenjap dari permukaan masjarakat-masjarakat dibawa bersama oleh para penghafadhnja ke alam barzakh.
Untuk menghasilkan maksud mulia tersebut, khalifah meminta (memerintahkan) kepada Gubernur Madienah, Abu Bakar ibn Muhammad ibn Hazmin (120 H) supaya mendewankan hadiets Rasulullah s.a.w yang terdapat pada penghafadh wanita yang terkenal, Umrah binti Abdir Rahman (21 H = 642 M – 90 H = 716 M) seorang wanita Islam yang terkenal dalam urusan Fiqih, murid ‘Aisjah r.a. dan hadiets-hadiets yang ada pada Al Qaasim ibn Muhammad ibn Abie Bakar Ash Shiddieq (107 H = 725 M), seorang pemuka tabi’ie dan salah seorang dari Fuqaha Madienah yang tudjuh. Disamping itu ‘Umar mengirimkan suratnja kepada para Gubernur di serata wilajah yang dibawah kekuasaannya, supaja berusaha mendewankan hadiets yang ada pada Ulama yang berkediaman dalam wilajah mereka masing-masing.
Diantara  Ulama  besar  yang  mendewankan hadiets atas kemauan khalifah itu, ialah :  Abu Bakar, Muhammad ibn Muslim, ibn Ubaidillah ibn Sjihaab Az Zuhri, seorang tabi’ie yang ahli dalam urusan Fiqih dan Hadiets (51 H = 671 M – 124 H = 742 M). Inilah Ulama besar itu yang mula-mula mendewankan hadiets atas andjuran Khalifah. Kemudian dari itu baharulah berlomba-lomba para Ulama-ulama besar mendewankan hadiets, atas andjuran Abul ‘Abbas As Saffah. Akan tetapi takdapat  diketahui  lagi  siapakah  gerangan  yang  mula-mula  membukukan  Hadiets  sesudah Az Zuhri itu, karena Ulama-ulama tersebut yang datang sesudah Az Zuhri, semuanya semasa.
Yang dapat ditegaskan sedjarah sebagai dibawah ini :
1). Pengumpul pertama : dikota Mekkah, Ibnu Djuraiz (80 H = 669 M – 150 H = 767 M).
2). Pengumpul pertama  : dikota Madienah,  Ibnu  Ishaaq,  (151 H = 768 M).  Atau Maalik  ibn Anas (93 H =703 M – 179 H = 798 m).
3). Pengumpul pertama : dikota Bashrah Ar Rabie ibn Shabieh (..160 H = 777 M) atau Sa’ied ibn Abi ‘Arubah (156 H = 773 M)
4). Pengumpul pertama : dikota Waasith, Husjaim Al Wasithy (104 H = 722 M – 188 H – 804 M).
5). Pengumpul pertama : dikota Jaman, Ma’mar Al Azdy (95 H = 753 M – 153 H = 770 M).
6). Pengumpul pertama : dikota Rey, Djarier Adl Adlabby (110 H = 728 M – 188 H = 804 M).
7). Pengumpul pertama : dikota Khurasan, Ibnul Mubarak (118 H = 735 M – 181 H = 797 M)
 Semua Ulama besar yang mendewankan hadiets ini, terdiri dari ahli abad yang kedua hijrah dan sangat disesali, kitab Az Zuhry dan Ibnu Djuraidj itu tiada diketahui lagi keberadaannya. Kitab yang paling tua yang ada pada tangan ummat Islam dewasa ini, ialah AL MUWATHTHA, karangan (susunan) Imam Maalik r.a. yang disuruh susun oleh Khaliefah Al Manshur diketika dia pergi hadji pada tahun 144h.
Dalam kitab Tariekh Khulafah tersebut : “Pada tahun 143 hidjrah bangunlah Ulama-ulama Islam memulai pembukuan Hadiets, FIQIH dan TAFSIR :
·     Di Mekkah berusahalah : Ibnu Djuraidj.
·     Di Madienah : Imam Maalik, di Sjam : Al Auzaa’y (88 H = 707 M – 157 H = 773 M),
·    Di Bashrah : Ibnu Abie Arubah (156 H =733 M), dan Hammad (167 H = 789 M).
·     Di Jaman : Ma’mar.
·  Di Kuran : Sofjan Ats Tsaury.Dan Ibnu Ishaaq menjusun kitab AL MAGHAAZY dan Abu Haniefah menjusunkan FIQIH.
Dan kitab yang mendapat perhatian para ‘Ulama dari masa-kemasa dari kitab tersebut hanjalah AL MUWATHTHA sahadja dan AL MAGHAAZY dalam urusan Sieratun Nabi.
Para ‘Ulama abad (2) kedua mendewankan Hadiets, dengan tidak menjarinja, jakni : Mereka tidak membukukan hadiets sahadja. Fatwa-fatwa shahabat pun dimasukkan djuga kedalam dewanja itu. Bahkan fatwa-fatwa tabi’ien djuga dimasukkan. Semua itu dibukukan bersama-sama. Maka terdapatlah di dalam kitab-kitab tersebut, hadiets-hadiets Marfu’, hadiets-hadiets Mauquf dan hadiets-hadiets Maqthu’.
Kitab-kitab Hadiets yang termasjur dalam Abad Kedua Hidjrah.
·     Al Muwaththa, susunan : Imam Maalik r.a.
·     Al Musnad, susunan : Imam Asj Sjafi’y.
·     Mukhtaliful Hadiets, susunan : Imam Asj Sjafi’y.
·     Al Djami’, susunan : Abdurrazzaq Ash Shan’any.
·     Mushannaf Sju’bah, susunan : Sju’bah Ibnul Hadjdjadj.
·     Mushannaf Sufjaan, susunan : Sufjaan ibn ‘Ujainah.
·     Mushannaf Al Laits, susunan : Al Laits ibn Sa’ad.
·     As Sunan, susunan : Al Auzaa’y.
·     As Sunan, susunan : Al Humaidy.