I s l a m d a n I l m u H a d i e t s
Mendewankan
hadiets abad kedua hidjrah dan kitabnja.
Sebab-sebab yang menimbulkan usaha pendewanan hadiets.
Permulaan zaman membukukan hadiets dalam dewan hadiets.
Dapat sudah difahamkan, bahwa di dalam masa abad pertama hidjrah, mulai dari masa
Rasulullah s.a.w. masa khulafa Rasjidien dan sebahagian besar dari zaman
Amawijah ya’ni hingga akhir abad pertama hijrah, hadiets-hadiets itu berpindah
dari mulut-kemulut. Masng-masing perawi meriwajatkannja berdasar kekuatan
hafadhannja. Mereka pada masa itu pun belummempunyai motiv-motiv yang
menggerakkan mereka kepada pembukuan. Hafadhan mereka terkenal kuat. Diakui
sedjarah kekuatan hafadhan para shahabat dan tabi’ien itu.
Dikala kendali Khalifah dipegang oleh ‘Umar Ibn Abdil
‘Aziz seorang khalifah dari kekuasaan Amawijah yang terkenal adil dan wara’
sehinggah beliau dipandang sebagai khalifah Rasjidien yang kelima (5),
tergeraklah hatinja untuk mendewankan hadiets. Beliau insyaf, bahwa para perawi
yang memendaharakan hadiets dalam hatinja, kian lama kian banjak yang meninggal
dunia. Beliau khawatir apabila tidak segera dibukukan dan dikumpulkan dalam
dewan-dewan hadiets dari para perawinja, mungkunlah hadiets-hadiets itu akan
lenjap dari permukaan masjarakat-masjarakat dibawa bersama oleh para
penghafadhnja ke alam barzakh.
Untuk menghasilkan maksud mulia tersebut, khalifah
meminta (memerintahkan) kepada Gubernur Madienah, Abu Bakar ibn Muhammad ibn
Hazmin (120 H) supaya mendewankan hadiets Rasulullah s.a.w yang terdapat pada
penghafadh wanita yang terkenal, Umrah binti Abdir Rahman (21 H = 642 M – 90 H
= 716 M) seorang wanita Islam yang terkenal dalam urusan Fiqih, murid ‘Aisjah
r.a. dan hadiets-hadiets yang ada pada Al Qaasim ibn Muhammad ibn Abie Bakar
Ash Shiddieq (107 H = 725 M), seorang pemuka tabi’ie dan salah seorang dari
Fuqaha Madienah yang tudjuh. Disamping itu ‘Umar mengirimkan suratnja kepada
para Gubernur di serata wilajah yang dibawah kekuasaannya, supaja berusaha mendewankan
hadiets yang ada pada Ulama yang berkediaman dalam wilajah mereka
masing-masing.
Diantara Ulama
besar yang mendewankan
hadiets atas kemauan khalifah itu, ialah : Abu Bakar, Muhammad ibn Muslim, ibn Ubaidillah
ibn Sjihaab Az Zuhri, seorang tabi’ie yang ahli dalam urusan Fiqih dan Hadiets
(51 H = 671 M – 124 H = 742 M). Inilah Ulama besar itu yang mula-mula
mendewankan hadiets atas andjuran Khalifah. Kemudian dari itu baharulah
berlomba-lomba para Ulama-ulama besar mendewankan hadiets, atas andjuran Abul
‘Abbas As Saffah. Akan tetapi takdapat
diketahui lagi siapakah
gerangan yang mula-mula
membukukan Hadiets sesudah Az Zuhri itu, karena Ulama-ulama
tersebut yang datang sesudah Az Zuhri, semuanya semasa.
Yang dapat ditegaskan sedjarah sebagai dibawah ini :
1). Pengumpul pertama : dikota Mekkah, Ibnu Djuraiz (80 H = 669 M – 150 H =
767 M).
2). Pengumpul pertama : dikota Madienah, Ibnu Ishaaq,
(151 H = 768 M). Atau Maalik
ibn Anas (93 H =703 M – 179 H = 798 m).
3). Pengumpul pertama : dikota
Bashrah Ar Rabie ibn Shabieh (..160 H = 777 M) atau Sa’ied ibn Abi ‘Arubah (156
H = 773 M)
4). Pengumpul pertama : dikota Waasith, Husjaim Al Wasithy (104 H = 722 M –
188 H – 804 M).
5). Pengumpul pertama
: dikota Jaman, Ma’mar Al Azdy (95 H = 753 M – 153 H = 770 M).
6). Pengumpul pertama
: dikota Rey, Djarier Adl Adlabby (110 H = 728 M – 188 H = 804 M).
7). Pengumpul pertama
: dikota Khurasan, Ibnul Mubarak (118 H = 735 M – 181 H = 797 M)
Semua Ulama besar
yang mendewankan hadiets ini, terdiri dari ahli abad yang kedua hijrah dan
sangat disesali, kitab Az Zuhry dan Ibnu Djuraidj itu tiada
diketahui lagi keberadaannya. Kitab yang paling tua yang ada pada tangan ummat
Islam dewasa ini, ialah AL MUWATHTHA, karangan (susunan) Imam Maalik r.a. yang disuruh susun oleh Khaliefah Al Manshur diketika dia
pergi hadji pada tahun 144h.
Dalam kitab Tariekh Khulafah tersebut : “Pada tahun 143 hidjrah bangunlah
Ulama-ulama Islam memulai pembukuan Hadiets, FIQIH dan TAFSIR :
· Di Mekkah
berusahalah : Ibnu Djuraidj.
· Di Madienah : Imam
Maalik, di Sjam : Al Auzaa’y (88 H = 707 M – 157 H = 773 M),
· Di Bashrah : Ibnu
Abie Arubah (156 H =733 M), dan Hammad (167 H = 789 M).
· Di Jaman : Ma’mar.
· Di Kuran : Sofjan
Ats Tsaury.Dan Ibnu Ishaaq menjusun kitab AL MAGHAAZY dan Abu Haniefah
menjusunkan FIQIH.
Dan kitab yang mendapat perhatian para ‘Ulama dari masa-kemasa dari kitab
tersebut hanjalah AL MUWATHTHA sahadja dan AL MAGHAAZY dalam urusan Sieratun
Nabi.
Para ‘Ulama abad (2) kedua mendewankan Hadiets,
dengan tidak menjarinja, jakni : Mereka tidak membukukan hadiets sahadja.
Fatwa-fatwa shahabat pun dimasukkan djuga kedalam dewanja itu. Bahkan
fatwa-fatwa tabi’ien djuga dimasukkan. Semua itu dibukukan bersama-sama. Maka
terdapatlah di dalam kitab-kitab tersebut, hadiets-hadiets Marfu’,
hadiets-hadiets Mauquf dan hadiets-hadiets Maqthu’.
Kitab-kitab Hadiets yang termasjur dalam Abad Kedua Hidjrah.
· Al Muwaththa,
susunan : Imam Maalik r.a.
· Al Musnad,
susunan : Imam Asj Sjafi’y.
· Mukhtaliful
Hadiets, susunan : Imam Asj Sjafi’y.
· Al Djami’,
susunan : Abdurrazzaq Ash Shan’any.
· Mushannaf
Sju’bah, susunan : Sju’bah Ibnul Hadjdjadj.
· Mushannaf
Sufjaan, susunan : Sufjaan ibn ‘Ujainah.
· Mushannaf Al
Laits, susunan : Al Laits ibn Sa’ad.
· As Sunan,
susunan : Al Auzaa’y.
· As Sunan,
susunan : Al Humaidy.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar