I s l a m d a n I l m u H a d i e t s
Masa membukukan
Hadiets.
Para Ahli abad yang (2) kedua sebagai yang telah
diterangkan tidak mengasingkan hadiets dari fatwa-fatwa Shahabat dan Tabi’ien.
Keadaan ini diperbaiki oleh ahli abad yang (3) ketiga. Ahli abad yang ke tiga,
dikala mereka bangun mengumpulkan hadiets, mereka mengasingkan hadiets dari
fatwa-fatwa itu. Mereka dewankan hadiets sahadja dalam dewan-dewan hadiets.
Akan tetapi, satu kekurangan pula yang harus di akui ialah : Mereka tidak
memisah-misahkan hadiets. Yakni, mereka mentjampur baurkan Hadiets Shahieh
dengan Hadiets Hasan dan dengan Hadiets Dla’ief. Segala Hadiets yang mereka
terima, mereka dewankan dengan tidak menerangkan ke shahiehannja atau ke
hasanannja, atau ke dla’iefannja. Lantaran demikian tak dapatlah orang yang
kurang ahli mengambil hadiets-hadiets yang terdewan didalamnja.
Permulaan Imam
mendewankan Hadiets.
Sekiranja kekeruhan itu terus-menerus berlaku
tentulah tidak dapat meminum airnya dan tak dapat beramal dengan dia, apalagi
mengingat bahwa dimasa itu telah muntjul orang-orang Zindiq dan Jahudy yang
membuat hadiets-hadiets palsu dengan djalan yang sangat litjin, yang sukar diketahui
kepalsuannja.
Maka untuk mendjaringkan segala hadiets itu : untuk
membedakan hadiets-hadiets shahih dari yang palsu, seorang imam Hadiets Ishaaq ibn Rahawaih, memisahkan
hadiets-hadiets yang shahih dengan tidak shahih. Pekerjaan yang mulia ini beliau
dibantu dan diselenggarakan lebih lanjut oleh Imam Bukhary. Didalam beliau dewankan segala hadiets yang dipandang
shahih. Usaha Imam Bukhary diteruskan lagi oleh seorang muridnya yang sangat
‘Alim, Imam Muslim. Sesudah shahih
Bukhary dan shahih Muslim tersusun, berdiri pula beberapa imam lain mengikuti
djedjak kedua imam besar itu. Dengan apa yang dilakukan imam Bukhary, Muslim
dan imam-imam lain itu, yang kesemuanja dari ahli abad yang ketiga (3),
terkumpullah djumlah yang sangat besar dari hadiets-hadiets yang shahih.
Sedikit sadja Hadiets-hadiets shahih yang tak terkumpul dalam kitab ahli
hadiets abad ketiga, yang diusahakan mengumpulkannya oleh ahlai-ahli hadiets di
abad yang ke empat (4).
Memang sesudah kitab Ibnu Djuraidj dan Muwaththa’
Maalik tersebar didalam kalangan ummat Islam dan disambut oleh ummat dengan
gembira. Pada mula-mulanja ‘Ulama-ulama Islam, manerima hadiets dari segala
perawi-perawi dan lalu menulis kedalam bukunja, sesudah ia hafadhkan. Dikala
musuh-musuh Islam yang didalam selimut melihat kegiatan ‘Ulama-‘ulama Hadiets
telah sebegitu rupa, bangunlah mereka membuat hadiets, menambah-nambahkan
perkataan membuat hadiets Maudlu’. Pada mulanya penjakit ini berjangkit di
Iraq.
‘Ulama Islam mengetahui hal itu,
bersungguh-sungguhlah mereka mengatur aturan-aturan menerima hadiets,
menentukan shifat-shifat orang yang boleh diterima hadietsnja, menetapkan
keadaan orang yang ditolak hadietsnja. Mulailah mereka membahaskan hal ihwal
perawi-perawi itu dengan sungguh-sungguh shingga mereka dapat mejakini siapa
yang diterima riwajatnja dan siapa yang tidak, yang ditunda hadietsnja. Untuk
mentjahari pendjelasan, ‘Ulama-‘Ulama Islam mengatur ( ‘ilmu musthalah ). Mulailah mereka
memisahkan hadiets yang shshih dari yang dla’if, mengambil yang dapat diambil,
menolak yang patut di tolak.
Al Bukhary
memilih hadiets dengan mengadakan beberapa sjarat, maka beliau telah
dapat menshahkan {“9082”} hadiets dari {“60.000”] hadiets. Dan Muslim telah
dapat menshahihkan (“6000”) enam ribu hadiets dari sedjumlah (“300.000”)
hadiets.
Kitab sunnah
tersusun dalam abad ke tiga (3).
1.
Al Djami’ush Shahieh, susunan : Al Bukhary.
2.
Al Djami’ush Shahieh, susunan : Muslim.
3.
As Sunan, susunan : An Nasaa-IE.
4.
As Sunan, susunan : Abie Daaud.
5.
As Sunan, susunan : At Turmudzy.
6.
As Sunan, susunan : Ibnu Madjaah.
7.
Musnad Ahmad, susunan : Imam Ahmad.
8.
As Sunan, susunan : Ad Daarimy.
9.
Al Muntaqaa, susunan : Ibnul Djaarud.
10.
Al Musnad, susunan : Abu Ja’laa.
11.
Al Musnad, susunan : Al Humaidij.
12.
Al Musnad, susunan : ‘Alie Al Madaa-inie.
13.
Al Musnad, susunan : Al Bazzaar.
14.
Al Musnad, susunan : Baqi ibn Mukhlad.
15.
Al Musnad, susunan : Ibnu Rahawaih.
Maka dengan perlakuan Imam besar abad yang ke (3)
tiga, tersusunlah Tiga macam kitab Hadiets dalam abad yang ketiga ini.
Pertama : Kitab-kitab Shahieh.
Kedua : Kitab-kitab
Sunan.
Ketiga : Kitab-kitab
Musnad.
1. Kitab-kitab Shahieh, ialah : “Kitab-kitab yang menjusunnja tiada memasukkan
kedalamnja, selain dari Hadiets-Hadiets yang Shahieh sadja”.
2. Kitab-kitab Sunan (selain dari Sunan Ibnu Madjah), ialah: “Kitab-kitab yang pengarangnja tiada memasukkan Hadites-Hadiets yang munkar dan yang
serupanja. Adapun hadiets-hadiets (dla’ief) yang tidak munkar dan tidak sangat
lemah, terdapat djuga didalamnja, dan kebanjakan diterangkan ke dla’iefnja oleh
pengarangnja sendiri”.
3. Kitab-kitab Musnad, ialah :“Kitab-kitab yang penjusunnja memasukkan kedalamnja
segala rupa Hadiets yang diterima dengan tidak menjaringnja dan tidak menerangkan
deradjat-deradjatnja”.
“Disebabkan demikian, deradjatnja dibawah deradjat
kitab Sunan dan mengambil Hadiets dari padanja hanja diharuskan kepada
orang-orang yang ahli menjaring, ahli menjelidik, mengerti hal ihwal Hadiets
dan seluk beluknja.